Rabu, 19 Agustus 2020

Gigi


Beberapa waktu lalu saya sempat terbahak-bahak ketika melihat sebuah akun yang penuh dengan postingan gambar korban 'Tukang Gigi'. Seperti kita tahu, Tukang gigi adalah sebutan untuk para dokter gigi abal-abal dengan ilmu seadanya, tanpa pendidikan yang mumpuni. Entah kenapa masih saja ada yang berani bertaruh gigi untuk para tukang ini.

Dan lalu rasa syukur menyelinap di hati saya. Bersyukur karena saya diberi Allah bentuk gigi yang tidak perlu untuk dipagari, rapi sekali. Hanya ada satu gigi geraham yang sedikit miring. Selain itu semuanya rapi, dan saya baru menyadari bahwa senyum saya beserta gigi ternyata sangat indah.

Selama ini saya selalu tidak percaya diri tersenyum dengan memperlihatkan gigi. Selalu senyum simpul saja. Tapi beberapa hari lalu saya mencoba memoto diri beserta gigi yang terlihat dengan frame bibir terbuka lebar. Bagus sekali. Kenapa pula selama ini saya selalu tersenyum dengan begitu pelit. Senyum dengan gigi terlihat, tampak sangat ceria. Saya suka wajah saya tampak ceria.

Alhamdulillah saya tak terlalu pikirkan jika gigi saya berwarna tidak putih, yang penting bersih dan rapi. Saya ingat, dulu kakak saya saat SMP, begitu galau ketika satu gigi depannya tampak maju. Ia lalu ke dokter gigi untuk mendapat kawat gigi, padahal di tahun segitu, kawat gigi belumlah tampak keren. Ia mengalami saat yang sulit karena dijuluki sebagai cewek bergigi kawat.

Ketika jaman berubah, kawat gigi menjadi trendi. Semua ingin berkawat gigi, walau giginya normal sekalipun. Bahkan ada kawat gigi portable yang seperti aksesori saja, bisa lepas pasang sendiri. Dan saat itu, memasang kawat gigi di dokter gigi sudah sangat mahal. Sekitar lima juta rupiah. Beberapa teman saya memohon pada orang tuanya untuk bisa memakai kawat gigi ini. Tampaknya, saat itu, gigi yang miring sedikit, membuat percaya diri begitu luruh, karena semua tampak wajib bergigi rapi.

Bersyukur dan bersyukur. Padahal saat ini saya sedang menahan sakitnya satu geraham yang bolong. Namun, mengalihkan sakit itu dengan postingan rasa syukur ini. Saya tidak tahu sampai kapan gigi saya yang rapi ini menemani saya. Namun, terimakasih untuk 30 tahun kebersamaan dengan kenyamanan bergigi rapi.

Salam senyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen dong dong

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.